Rabu, 31 Agustus 2016

MANUSIA yang MERENCANAKAN, TUGAS KAMPRET yang MEMBATALKAN. (Catatan Mahasiswa Akhir)

            Kenapa font gue pake “Chiller” dan “Bold”? Biar nyeremin? Biar keren? Biar diajak balikan mantan? Jawabannya nggak, hal ini berkenaan dengan apa yang akan gue bahas, sedikit berbau agak nyeremin bagi seekor mahasiswa. Oke, kali ini gue akan membahas mengenai “TUGAS”. Hal yang dibenci dari mahasiswa adalah adanya tugas, kenapa? Karena tugas memberikan efek yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup dalam berbangsa dan bernegara, tapi ini terkesan terlalu alay. Sebenernya, secara substansial tugas merupakan salah satu penghambat mahasiswa dalam melaksanakan hobi ataupun kegiatan kesehariannya yang lebih penting, seperti ngopi, bermain basket di depan gedung rektorat ataupun kencan dengan mantan dan gebetan (jangan ditiru, adegan berbahaya).
Sebagai mahasiswa yang baik, tidak sombong, rajin menabung dan jomblo, gue selalu berpikiran kenapa sih tugas diberikan pada mahasiswa yang nggemesin kek mantan gue, oke fokus. Kenapa sih tugas diberikan kepada mahasiswa? Apa alasan dosen membebankan mahasiswa dengan tugas yang begitu menumpuknya. Padahal kami sebagai mahasiswa sudah mempunyai beban yang cukup banyak dan menderita.
Lo bayangin aja, gue semester ini menempuh sekitar 11 mata kuliah, dan berarti gue akan mendapatkan tugas dari setiap mata kuliah yang akan gue tempuh. Yang berarti semester ini gue habisin untuk TUGAASSSS, TUGAAAASSS dan TUGAAASSSS..... Romantis sekali pemirsah. Tapi, gue gabakal nyerah karena melihat usaha orang tua gue yang selama ini memeras keringat demi bisa nguliahin gue. Iya, gue dilahirin dari keluarga yang sederhana yang seharusnya menuntut gue untuk usaha lebih giat lagi demi menggapai cita-cita yang gue pengenin. Meskipun membutuhkan perjuangan yang gak gampang, gue yakin dari usaha dan berdoa tidak ada yang namanya sia-sia.
Gue kadang prihatin dengan mereka-mereka yang belum mencoba tapi sudah putus asa, apalagi cuman ngeluh cuman gara-gara kesulitan dalam mengerjakan tugas. Padahal diluar sana masih banyak mereka-mereka yang ingin kuliah tapi terkendala banyak hal yang mengharuskan mereka menunda keinginan mereka untuk kuliah, ataupun tidak bisa berkuliah sama sekali. Ini ironi yang sangat mengenaskan menurut gue, disaat ada yang berkeinginan dan mempunyai kemauan tinggi dalam mengecap bangku perkuliahan malah tidak bisa berkuliah, eh yang punya kesempatan bisa berkuliah malah gak bersyukur sama sekali.
Sekarang gue nanya, hal apa yang sudah kalian tempuh hingga menyebabkan kalian mengeluh sedemikian rupa? Wahai anakku yang baik hatinya, gesrek ingatannya. Padahal jika gue compare dengan mereka-mereka yang sudah sukses, mereka gak pernah tuh ngeluh-ngeluh masalah kehidupan mereka. Padahal karya mereka sudah banyak. Lah elu? ngehasilin karya kagak, eh sambat iya, kan kampret.
Oke, back to topic....
Tugas demi tugas gue kerjain, pelan, sabar, sempet mecahin gelas ketika frustasi, dan akhirnya selesai!! Gue tergolong orang yang tidak terlalu suka memaksakan diri. Jadi setiap hari gue usahain nyicil tugas, sedikit demi sedikit, nggak langsung sehari selesai. Entah kenapa gue lebih suka nugas tiap hari tapi dikit demi sedikit dari pada sehari langsung selesai. Mungkin menurut gue begitu lebih efektif gitu, meski kadang gue lebih banyak malesnya daripada nugasnya ehehehe..
Terkadang gue malah lebih suka tugas dikerjakan bareng meskipun tugas tersebut emang di berikan untuk individu. Percayalah nugas bareng sensasinya lebih wow meskipun waktu pengerjaannya akan bertambah karena banyak becandanya daripada nugasnya, intinya yang penting selesai kan? Hahaha... Sebenernya menurut gue emang lebih banyak positifnya sih nugas bareng daripada negatifnya. Semisal lo nggak bisa, lo bisa sharing dengan temen lo tentang apa-apa yang lo nggak bisa di tugas tersebut, atau lo bisa sharing tentang kehidupan asmara lo, gebetan, pacar, dan man*an (ini lebih baik jika nggak disebut).
Selain lo bisa sharing, lo sebenernya juga bisa nyalin catetan yang waktu pelajaran nggak nyatet ke temen lo. Kadang ketika posisi duduk lo di tengah atau dibelakang, dosen didepan menerangkan materinya dengan bahasa kalbu ataupun suaranya yang gak bisa ke detect oleh indera pendengar kita, nah itu lo waktu nugas bareng jadiin wahana yang bermanfaat untuk diri lo.
Dilain sisi nugas bareng kadang juga menimbulkan keemosian, keletihan, kenyamanan, kesempurnaan cinta~... oke fokus. Dilain hal, nugas bareng pastinya juga ada sisi ke bangke annya sendiri. Kadang pas lo serius-seriusnya nugas, malah ada temen lo yang ngehidupin lagu korea, ataupun lihat film korea yang berakhir dengan cuma nyalin tugas kita yang selesai. “Anu bro, tugasnya udah belom?”. “Sudah bro, tapi nikahnya yang belom...”
So, kerjakanlah tugas lo dengan senyaman-nyamannya. Entah itu dengan ngerjakan sendiri ataupun bersama temen-temen lo. Sebenernya tidak ada larangan nugas dengan ngelakuin kegiatan lo, mungkin kah ngerjakan tugas sambil ngopi bayarnya nanti nambah?. Berani lah keluar dari zona nyaman lo, Kalo lo jadi mahasiswa yang pengen nyantai-nyantai aja gakpapa juga si, tapi jangan nyesek kalo temen lo udah pake baju toga dan lo masih terperangkap dalam jurang kenyamanan lo.
  Sesekali lo boleh ngerefresh otak main-main sama temen lo, ngopi bareng, nonton bareng, ataupun kencan bareng, tapi ingat dengan tugas serta kewajiban lo sebagai mahasiswa. Gue yakin setiap mahasiswa berpamitan dengan orang tua nya ke tempat perantauan dengan izin “Kuliah”, dan kewajiban anak kuliahan adalah belajar, dan mengerjakan tugas adalah bagian dari belajar.
Sekarang gue sadar, kenapa setiap guru ataupun dosen memberikan tugas bagi siswa ataupun mahasiswanya. Bukan semata-mata sebagai tolak ukur kemampuan kita atau hanya sebagai bumbu untuk penilaian, tapi ada misi terselubung bagi mereka, yaitu membaca. Yah, membaca adalah hal yang sangat penting, kadang tanpa adanya tugas kita sangat alergi dengan yang namanya “membaca”.

Wallhumuafiq ilaa aquamittoriq
Biarpun munafiq, tetapi tetap menariq.
Sekian, terimakasih.



1 komentar: